
Sunday, June 28, 2009
Jalur Perdagangan Obat Kuat (Seks)

Gugur Satu Tumbuh Seribu

ANDA kenal dengan nama-nama ini: Raymond, Aldrin, Miko, Winky, Milinka, Tammy, Adit, atau Dree? Tidak semua tahu, tapi bagi pada clubber, nama-nama tersebut tentu tidak asing lagi. Ya, merekalah para bintang di dunia malam, para disc joeckey (DJ) yang selalu meramaikan suasana dengan kepandaiannya meramu musik.
Para DJ itulah yang dipercaya untuk mengisi acara penutupan Embassy, klub ternama yang berlokasi di Taman Ria Senayan Jakarta beberapa waktu yang lalu. Closing party perlu digelar untuk menandai berakhirnya klub tersebut pertengahan Januari lalu.
Tapi klub di Jakarta bak pepatah, tutup satu tumbuh seribu. Klub yang satu berakhir, segera muncul yang baru. Saat ini pada partygoers Jakarta sedang dibuat terpesona oleh klub-klub yang muncul belakangan, mulai dari Dragonfly, Blowfish, X2, atau yang terbaru Indochine dan Immigrant. Yang disebut terakhir mungkin yang paling istmewa saat ini, bahkan boleh disebut sebagai sebagai Jakarta's newest hot spot. Berlokasi seluas 1400 meter per segi di lantai paling atas Plaza Indonesia Extension yang baru, dari lounge venue tersebut para pengunjung bisa menikmati pemandangan Jakarta, khususnya di sekitar jalan Thamrin dan Bundaran HI, karena sebagian area memang dibuat open air.
Kota Jakarta selalu bergerak, orang-orangnya adventurous, selalu mencoba hal-hal baru, maka klub-klub yang hadir harus memberikan sesuatu yang baru bagi mereka. Itu pula yang ingin dihadirkan oleh Immigrant, yang mempunyai tagline “Becoming One for Many”.
Ya, penduduk Jakarta yang super sibuk selalu membutuhkan hiburan untuk melepaskan kepenatan, para clubber membutuhkan keriaan yang sesuai dengan jiwa mereka yang dinamis. Suasana gembira, kilatan lampu, dan dentuman musik techno yang dimainkan oleh para DJ.
Dunia gemerlap (dugem) memang kagak ade matinye. Budaya clubbing sebetulnya lahir pada akhir dekade 1980-an di Eropa yang dengan kemajuan teknologi musiknya melahirkan house music. Klub-klub di Ibiza, Italia dan London menjadi surga berdenyutnya musik jenis ini. Seiring berjalannya waktu, musik ini juga berevolusi – dari house ke trance, lalu hardcore, jungle, progressive dan drum & bass.
Dari Benua Eropa budaya ini mulai mewabah ke seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Klub-klub musik dan tempat-tempat hiburan malam di kota-kota besar, sebutlah Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Bali, bermunculan.
Selama ada massanya dunia clubbing di Jakarta tampaknya akan terus hidup. Entah itu di kawasan barat dengan musik yang lebih ritmenya lebh cepat, atau pun gaya selatan yang lebih stylish, bahkan cenderung “jaim” (jaga image). Selamat datang di dunia gemerlap malam! (Burhanuddin Abe)
Appetite Journey, July 2009
In Vino Veritas (2)

POPULARITAS wine di Jakarta makin tinggi. Indikasinya tidak hanya makin banyak wine lounge yang berdiri, tapi ritual minum wine kini bak minum bir saja. Bukan berarti wine menjadi murahan, tapi wine kini tersosialisasikan dengan lebih baik dibandingkan dengan era sebelumnya. Dulu hanya di hotel berbintang lima saja yang menyediakan wine, atau wine lounge di kawasan Kemang yang banyak ditinggali para ekspatriat. Kini, tempat minum wine mulai meluas wilayahnya, mulai dari Mega Kuningan hingga Kelapa Gading. Bahkan ada juga di mal-mal dan plaza-plaza. Sebutlah Cork & Screw yang cabang keduanya hadir di Plaza Indonesia.
Lokasi yang disebut terakhir ini sangat strategis, karena berada di lantai dasar dan berhadapan langsung dengan Bundaran HI. Suatu sore dengan view air mancur yang indah saya dijamu oleh yang empunya, Reeza Budhisurya. Kami memilih red wine Australia. Entah mengapa akhir-akhir ini saya suka anggur asal Negeri Kangguru itu. Apalagi ketika saya mem-posting foto-foto kegiatan wine tasting di Facebook, seorang teman yang kini tinggal di Canberra memberi komentar, “Kenapa nggak mencoba wine Aussie, nggak kalah dengan produk Prancis loh!”
Ya, selera orang memang tidak sama, dan kebetulan lidah saya paling cocok dengan wine Australia, yang lebih light. Sebelumnya saya juga merasakan red wine Australia juga di The Wine Centre, milik Sarana Tirta Anggur, yakni Mid Day Shiraz. Rasa tidak bisa bohong, kata sebuah iklan. In vino veritas, dalam anggur ada kebenaran!
Tapi saya memang bukan wine expert, apalagi sommelier, jadi setuju saja dengan pilihan penjamu, yang tentunya lebih ahli. Dari merekalah saya banyak belajar wine, dari Reeza, Suryadi yang empunya The Wine Centre, atau Yohan Handoyo yang menulis buku “Rahasia Wine”, juga dari teman baik saya Dave Graciano, yang memang berkecimpung di F&B, termasuk wine. Mereka adalah orang-orang yang tidak pelit membagi ilmunya.
“Manusia telah membuat minuman anggur sejak sekitar lima ribu tahun yang lalu,” cerita Reeza. Wow, itu berarti pada zaman Nabi Nuh wine sudah ada.
Itu memang masih debatable, meski kalau saya mendebatnya tidak punya dasar, dan juga nggak penting. Tapi yang tidak bisa dimungkiri, wine adalah minuman yang populer di dunia – mungkin hampir menyamai popularitas kopi dan teh. Negara-negara yang penduduknya banyak mengkonsumsi wine adalah Prancis, Italia, Amerika Serikat, Jerman, Spanyol, Argentina, Inggris, China, Rusia, dan Rumania. Jika tolok ukur yang digunakan adalah angka per kapita, daftar tersebut menjadi Luxemburg, Perancis, Italia, Portugal, Kroasia, Swiss, Spanyol, Argentina, Uruguay, dan Slovenia.
Tapi minum wine tidak seperti air biasa tentu, ada ritual tersendiri. Minimal, wine tidak untuk diminum sebagai “obat haus”, tapi sebagai teman makan, disebut juga sebagai social drink, sehingga tidak bisa diminum sendirian. Mencicipi wine sebotol sendirian, selain memabukkan, jelas kurang elok. Apalagi tujuan mencicipi wine bukan untuk mabuk-mabukan, tapi sebagai sarana bersosialisasi. Sebuah klub pecinta wine “kelas atas” yang disebut Gran Cru saja membutuhkan 13 orang (jumlah yang optimum) untuk mencicipi sebotol wine premium – maklum, harganya ada yang Rp 50 juta per botol.
Mengapa ada wine yang harganya selangit? Jawabannya tidak sederhana, karena banyak rahasia yang di seputar wine, yang untuk mengetahuinya dibutuhkan jam terbang yang tinggi. Kalau tidak, yang ada hanya mitos-mitos yang seringkali keliru. Misalnya, mitos bahwa makin tua tahun yang tertera di botol, makin bagus kualitas wine-nya. Padahal tidak selalu begitu, ada wine yang dirancang untuk disimpan lama, ada pula yang lebih baik cepat dinikmati. Artinya, wine yang memang untuk diminum segera, tidak bisa disimpan lama-lama, apalagi sampai bertahun-tahun layaknya collectible item. Bukan tahunnya yang tua, tapi tahun panen anggur yang bagus (golden year) pasti menghasilkan wine yang luar biasa.
