Tuesday, October 16, 2007

Sedot Lemak

Ada dua teknik yang paling banyak dilakukan untuk membuang lemak nakal di tubuh. Pertama, teknik liposuction, yang disebut juga lipoplasty/suction lipectomy. Caranya dengan menyuntikkan jarum untuk menyedot timbunan lemak di area tertentu. Misalnya di lengan, paha atau perut. Menurut Dr. Edwin, tindakan liposuction kini sangat aman, karena ditunjang oleh teknik pembiusan (anastesi) lokal tumescent. Teknik liposuction biasa digunakan untuk menyedot kelebihan lemak yang tak terlalu ekstrem, sekitar 2-3 liter. Untuk menyedot lemak dalam jumlah besar – biasanya di sekitar perut – dilakukan mega liposuction, yang bisa menyedot hingga 10 liter lemak.

Teknik kedua adalah tummy tuck, istilah popular abdominoplasty, yang tergolong operasi kosmetik besar (major) untuk membuang kelebihan lemak di kawasan perut bagian bawah dan tengah. Caranya dengan melakukan sayatan kecil di atas daerah kelamin untuk operasi membuang lemak, mirip teknik operasi Caesar. Agar kulit di bagian yang lemaknya diangkat tak menggelambir, dilakukan penarikan dan pembuangan jaringan kulit sehingga kencang kembali, Otot-otot di bagian perut pun dikencangkan sehingga perut tampak lebih ramping dan tak buncit lagi.

Sedot lemak sebenarnya bukan metode baru. Teknik ini dikembangkan sejak dekade 1980-an. Bahkan, sejak 1986 di Indonesia sudah ada dokter yang melakukan sedot lemak. Pada dekade 1990-an, sedot lemak bahkan menjadi tren di kalangan atas. “Kini, seiring dengan tekniknya yang makin aman dan nyaman, permintaan akan sedot lemak terus meningkat,” ujar Dr. Edwin Djuanda, SpK, dari Klinik Jakarta Skin Center (JSC).

Bisa dimaklumi bila peminat kedua teknik ini kebanyakan berasal dari kalangan atas. Pasalnya, biayanya masih terbilang tinggi. Untuk sekali penyedotan di satu area saja biayanya berkisar antara Rp 10 juta-Rp 15 juta, tergantung kliniknya. Padahal, penyedotan biasanya dilakukan pada beberapa titik sekaligus. Misalnya di kedua lengan, di bawah dagu, paha, dan – ini yang biasanya paling banyak lemaknya – di sekitar perut. Total jenderal biayanya bisa mencapai Rp 60 juta-Rp 90 juta. Bila diperlukan tindakan ulang, maka biaya pun bertambah lagi. “Tapi bila diperlukan tindakan untuk penyempurnaan, biasanya dokter membebankan biaya lebih ringan dari operasi pertama,” papar Edwin.

Memang ada klinik-klinik kecil yang menawarkan layanan dengan harga miring, bisa sampai separuhnya. Tapi jangan buru-buru menubruk peluang ini. Pasalnya, tindakan ini harus dilakukan tim dokter ahli yang kompeten dan peralatan yang lengkap. Secara umum, baik liposuction maupun tummy tuck dilakukan dokter spesialis, khususnya spesialis kulit, bedah plastik, THT (telinga, hidung, dan tenggorokan), atau ahli kebidanan (ginekolog). Para dokter spesialis ini juga harus memiliki sertifikat pelatihan khusus. Dr. Edwin, misalnya, mengikuti kursus di Graduate Hospital, Philadelphia, pada 1990.

Selain sertifikasi keahlian, pertimbangan lain adalah reputasi dokter. “Dokter yang dikenal ahli biasanya memiliki reputasi yang dibina sejak bertahun-tahun. Reputasi ini menyiratkan kemampuan dan tanggung jawab dokter yang bersangkutan,” papar Edwin.

Di tangan tim dokter yang kompeten dan berpengalaman, tindakan vermak badan ini aman-aman saja. Apalagi kini dikembangkan teknik bius lokal tumescent. “Risikonya sangat kecil,” kata Edwin. Beberapa hari sebelum operasi, ada serangkaian pemeriksaan intensif yang harus dilakukan, mulai dari tes darah, hemoglobin, leukosit, dan bleedingtime. Dokter juga harus mengetahui apakah pasien yang berpenyakit jantung, hipertensi, asma, keloid dan alergi obat tertentu. Paling sedikit 7 hari praoperasi, pasien juga tak boleh mengonsumsi obat plafiks atau yang mengandung aspirin (di antaranya asetosal, refagan, buferin, dan aspilet).

Pascaoperasi pasien tak perlu bed rest. Segera setelah pulang, pasien disarankan minum banyak cairan atau air mineral untuk mengganti cairan tubuh yang hilang. Setelah beristirahat sehari, pasien sudah boleh beraktivitas normal – meski masih harus mengenakan korset. “Umumnya jahitan dibuka 4-7 hari pascaoperasi,” kata Edwin. Namun dokter harus terus memantau perkembangan pascaoperasi. Aktivitas olahraga berat boleh dilakukan seminggu setelah jahitan dibuka.

Melihat risiko dan ‘siksaan’ yang relative minim, tak heran bila makin banyak saja orang berduit yang memilih cara instan untuk membuang lemak ini. Meski begitu, secanggih apa pun prosedur pembedahan ini, Asosiasi Bedah Plastik Amerika mengingatkan sedot lemak tak dapat dijadikan pengganti pola makan yang sehat dan olahraga teratur. Tindakan ini hanya dapat membantu mengikis lemak liar yang nakal bertarak di bagian tubuh tertentu dan tak kunjung luruh melalui upaya diet dan olahraga. Ini berarti pola makan dan hidup serta berolahraga secara teratur tetap harus dilakukan. (Teguh P.)

Platinum Society No. 14 – Majalah SWA, Maret 2006